KARAKTERISTIK UNSUR-UNSUR HALOGEN

LAPORAN PRAKTIKUM


DI SUSUN OLEH
NAMA : FENDI PRADANA
STAMBUK : A 251 08 016

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO

2009

I. TUJUAN
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa dapat mempelajari sifat-sifat unsur halogen dan senyawanya.

II. WAKTU PELAKSANAAN
Percobaan ini dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 28 November 2009, bertempat di laboratorium pendidikan kimia FKIP UNTAD.

III. REAKSI-REAKSI
A. Pembuatan Unsur Halogen
a. MnO2 + 4 H+ + 2 e-  —–>   Mn2+ + 2 H2O
2Cl-  —–>   Cl2 + 2e-

MnO2 + 2Cl- + 4H+  —–>    Mn2+ + 2H2O + Cl2

b. MnO4- + 8H+ + 5e-  —–>    Mn2+ + 4H2O       ( x 2)
2Cl-  —–>     Cl2 + 2e-                  ( x 5)

2MnO4- + 16H+ + 10e-  —->   2Mn2+ + 8H2O
10Cl- —->   5Cl2 + 10e-

2MnO4- + 16H+ + 10Cl- 2Mn2+ + 8H2O + 5Cl2

B. Uji Sifat Unsur–Unsur Halogen

a. AgNO3(aq) + KF(aq)   —->   AgF(s) + KNO3(aq)
b. AgNO3(aq) + KCl(aq)   —->  AgCl(s) + KNO3(aq)
c. AgNO3(aq) + KBr(aq)   —->  AgBr(s) + KNO3(aq)
d. AgNO3(aq) + KI(aq)  —->  AgI(s) + KNO3(aq)
e. FeCl3(aq) + 3NaOH(aq)  —->   Fe(OH)3(s) + 3NaCl(aq)

f. Fe(OH)3(s) + 3KF(aq) + CHCl3(aq)  —->  tidak bereaksi
g. Fe(OH)3(s) + 3KBr(aq) + CHCl3(aq)  —-> tidak bereaksi
h. Fe(OH)3(s) + 3KCl(aq) + CHCl3(aq) —->  tidak bereaksi
i. Fe(OH)3(s) + 3KI(aq)  —->  FeI3(aq) + 3KOH(aq)
j. FeI3(aq) + NaOH(aq) + CHCl3(aq)   —->  Fe2+(aq) + I2(g) + NaI(aq)

IV. PEMBAHASAN

Halogen artinya unsur pembentuk garam karena unsur-unsur ini mudah bereaksi dengan logam membentuk garam (halogen dari kata halos artinya garam dan genos artinya pembentuk). Halogen merupakan unsur nologam reaktif, sehingga unsure-unsur itu tidak terdapat dalam keadaan bebas di alam. Senyawa halogen di alam merupakan senyawa halide dengan tingkat oksidasi = -1 (http://www.chem-is-try.org/halogenalkana.htm/)
Pada percobaan ini, perlakuan pertama yaitu melakukan proses pembuatan unsur halogen, dimana pada tabung 1 dan 2 masing-masing dimasukkan 0,5 gr MnO2 dan 0,5 gr KMnO4. Selanjutnya ke dalam tabung reaksi I dan II tersebut ditambahkan lagi 1 mL larutan HCl pekat. Setelah melakukan penambahan larutan HCl pekat tersebut, terlihat pada tabung reaksi yang berisi MnO2 dan HCl pekat, warna campuran yang ada di dalamnya menjadi berwarna hijau kehitaman, terbentuk gas dan tabung reaksi terasa panas. Sedangkan pada tabung reaksi yang berisi KMnO4 dan HCl pekat, terlihat warna campuran yang ada di dalamnya menjadi cokelat kehitaman, terbentuk gas dan juga tabung reaksi terasa panas. Selanjutnya menutup masing-masing mulut tabung dengan sepotong kertas saring yang telah ditetesi dengan larutan NaOH 0,001 M dan indikator PP. Hal ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan gas Cl2. Pada proses ini, terlihat kertas saring yang berwarna merah muda berubah menjadi putih. Perubahan warna tersebut menandakan bahwa dalam tabung reaksi tersebut positif terdapat gas Cl2, dimana gas Cl2 bereaksi dengan ion Na+ pada senyawa NaOH yang menghasilkan garam NaCl, sehingga sifat basa kuat dari NaOH pada kertas saring ternetralisasi oleh HCl pekat yang bersifat asam kuat (Walanda, K. Daud. 2007).
Jika dibandingkan antara perubahan warna kertas saring pada tabung reaksi yang berisi MnO2 dengan kertas saring pada tabung reaksi yang berisi KMnO4 di atas, kertas saring pada KMnO4-lah yang lebih cepat mengalami perubahan warna, hal ini disebabkan karena KMnO4 merupakan oksidator kuat, sehingga gas klor yang dihasilkan KMnO4 lebih banyak dibandingkan pada MnO2 (Buku Ajar, 2006).
selanjutnya kedua tabung tersebut dipanaskan dan masing-masing diuji dengan kertas lakmus merah dan biru. Setelah diuji dengan kertas lakmus, perubahan kertas lakmus pada tabung I dan II ternyata sama, yaitu terlihat pada kertas lakmus merah tetap berwarna merah dan biru berubah warna menjadi berwarna merah. Hal ini menandakan bahwa gas Cl2 yang dihasilkan oleh campuran dalam kedua tabung reaksi tersebut merupakan gas bersifat asam dan berwarna kuning. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawa ini.

Perlakuan kedua yaitu untuk menguji sifat-sifat dari unsur halogen dimana menyediakan 4 buah tabung reaksi yang bersih dan kering, selanjutnya mengisi tabung I dengan 2,5 mL AgNO3 0,1 M dan 2,5 mL KF 0,5 M, pada tabung reaksi I terlihat larutan yang ada menjadi keruh terbentuk endapan yaitu endapan AgF. Pada tabung II yang berisi 2,5 mL AgNO3 0,1 M dan 2,5 mL KCl 0,5 M, pada tabung reaksi II terlihat larutan yang ada di dalamnya menjadi keruh dan terbentuk pula endapan yaitu endapan AgCl. Pada tabung III yang berisi 2,5 mL AgNO3 0,1 M dan 2,5 mL KBr 0,5 M, pada tabung reaksi III tersebut terlihat larutan yang ada menjadi keruh terbentuk endapan yaitu endapan AgBr. Pada tabung IV yang berisi 2,5 mL AgNO3 0,1 M dan 2,5 mL KI 0,5 M, pada tabung reaksi IV ini terlihat larutan yang ada di dalamnya menjadi keruh terbentuk endapan yaitu endapan AgI. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Kemudian tabung reaksi I – IV, masing-masing ditambahkan dengan 0,5 mL CHCl3 (kloroform). Hal ini menyebabkan terbentuknya 2 lapisan pada setiap tabung reaksi di atas, dimana pada dasar tabung terbentuk lapisan bening yang merupakan larutan CHCl3 dan bagian di bagian atas berwarna putih keruh. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Terbentuknya 2 lapisan pada setiap tabung reaksi di atas, disebabkan karena adanya perbedaan sifat kepolaran antara kloroform dan campuran larutan yang ada pada setiap tabung reaksi tersebut, dimana kloroform merupakann senyawa yang bersifat nonpolar yang disebabkan tidak adanya elektron bebas dalam molekulnya, sehingga tidak dapat dilarukan oleh campuran yang ada dalam setriap tabung reaksi yang sifatnya polar. Hal ini sesuai dengan yang ada pada literatur bahwa suatu larutan akan larut jika dilarutkan ke dalam pelarut yang sifatnya sama, yang berarti bahwa senyawa yang bersifat non polar akan dapat larut pada senyawa yang bersifat non polar juga. Dalam percobaan ini diketahui iodin memiliki tingkat kepolaran yang begitu rendah sehingga sebagian dari unsur ini dapat bereaksi dengan kloroform dan juga diketahui bahwa fungsi AgNO3 yang digunakan adalah untuk mengendapkan unsur-unsur halogen (Michael Purba, 2004).
Dari ke-4 tabung di atas dapat terlihat bahwa tingkat kelarutan dari unsur halogen dalam AgNO3 semakin ke bawan semakin kecil (F>Cl>Br>I) hal ini sesuai dengan keterangan data pada tabel sistem periodik bahwa dari atas ke bawah unsur-unsur halogen semakin reaktif, sehingga dari percobaan ini, terlihat endapan yang paling banyak terbentuk secara berturut-turut adalah KI yang ditambahkan pada AgNO3 (tabung IV), KBr yang ditambahkan pada AgNO3, KCl yang ditambahkan pada AgNO3, dan yang paling sedikit adalah KF yang ditambahkan pada AgNO3 (Walanda, K. Daud. 2007).
Diketahui bahwa halogen cenderung larut dalam pelarut-pelarut organik karena gaya tarik menarik antar molekul yang baru terbentuk memiliki kekuatan yang sama dengan kekuatan ikatan yang diputus dalam halogen dan pelarut. Selain itu Kelarutan juga ditentukan oleh kekuatan ikatan, dimana kekuatan ikatan dari unsur halogen semakin berkurang dari atas ke bawah. Agar zat lain bisa bereaksi dengan halogenalkana, maka ikatan karbon-halogen harus diputus. Karena pemutusan semakin mudah dilakukan semakin ke bawah (mulai dari fluorin sampai iodin), maka senyawa-senyawa semakin ke bawah golongan halogen akan semakin reaktif. Kelarutan juga dipengaruhi oleh polaritas ikatan, dimana dari keempat halogen fluorin-lah yang merupakan unsur yang paling elektronegatif sedangkan iodin mempunyai sifat yang paling tidak elektronegatif (http://www.chem-is-try.org/halogenalkana.htm/).
Pada perlakuan selanjutnya, dimana 4 tabung reaksi yang bersih dan kering masing-masing ke dalamnya dimasukkan 2,5 mL FeCl3 0,01 M dan 0,5 mL NaOH 0,1 M. Selanjutnya pada tabung reaksi I ditambahkan 2,5 mL KF 0,5 M, pada tabung reaksi II ditambahkan 2,5 mL KCl 0,5 M, pada tabung reaksi III ditambahkan 2,5 mL KBr 0,5 M dan pada tabung reaksi IV ditambahkan 2,5 KI 0,5M. Dimana pada tabung I terlihat warna campuran berwarna orange muda, pada tabung reaksi II terlihat warna campuran berwarna orange, pada tabung reaksi III terlihat warna campuran berwarna orange pekat dan pada tabung reaksi IV terlihat warna campuran berwarna orange yang lebih pekat. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Selanjutnya pada setiap tabung ditambahkan larutan 0,5 ml CHCl3 (kloroform) selanjutnya mengocok setiap tabung dengan kuat. Sehingga pada proses ini, terlihat pada setiap tabung reaksi terbentuk 2 lapisan. Dimana secara berturut-turut pada tabung reaksi I, di bagian atas tabung terlihat warna campuran berwarna orange muda dan dibagian dasar tabung terdapat sol bening yang merupakan kloroform yang telah ditambahkan, pada tabung II, di bagian atas tabung terlihat warna campuran berwarna orange dan dibagian dasar tabung terdapat sol bening yang merupakan kloroform yang telah ditambahkan, pada tabung III, bagian atas tabung terlihat warna campuran berwarna orange pekat dan di bagian dasar tabung terdapat sol bening yang merupakan senyawa Fe(OH)3, serta pada tabung reaksi IV, bagian atas tabung terlihat warna campuran berwarna orange yang lebih pekat dan di bagian dasar tabung terdapat sol berwarna merah yang disebabkan karena sebagian dari kloroform bereaksi dengan campuran pada saat ditambahkannya KI, dimana diketahui bahwa I memiliki tingkat kepolaran yang begitu rendah (Walanda, K. Daud. 2007).

Dapat diketahui bahwa pada percobaan ini fungsi FeCl3 dan NaOH yang digunakan adalah untuk membentuk senyawa koloid Fe(OH)3 yaitu berupa sol/gel dan radius ion Cl- adalah 38% lebih besar dari pada F-, tetapi radius Br- hanya 6,5% lebih besar daripada Cl-. Perubahan yang agak kecil terhadap ukuran atom ini karena Br- mengandung 10 elektron 3d yang memerisai muatan inti tidak terlalu efektif. Hal ini juga disebabkan oleh nilai elektronegatifitas keduanya yang hampir mirip sehingga terdapat perbedaan yang kecil pada kepolaran (Walanda, K. Daud. 2007).

V. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat dikesimpulan bahwa :
1. Gas klorin dapat dibuat dari mereaksikan kalium permanganat dan asam klorida.
2. Kelarutan unsur halogen cenderung semakin kecil F>Cl>Br>I karena dipengaruhi oleh pengaruh kekuatan ikatan dan polaritas ikatan.
3. Kekeruhan unsur halogen dari atas ke bawah dalam satu golongan cenderung semakin besar F<Cl<Br<I.

4. Keelektronegatifan unsur halogen semakin ke bawah semakin berkurang, sehingga tingkat kepolarannya juga semakin ke bawah semakin berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Halogen Alkana. http ://www.chem-is-try-org.
(Diakses 16 November 2009).

Sensus, Mulya Setia. 2006. Kimia Untuk Kelas XII IPA. Jakarta:
PT. Intermedia Ciptanusantara.

Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif. Jakarta:
PT. Kalman Media Pusaka.

Tim Dosen Kimia Anorganik I. 2009. Penuntun Praktikum Kimia AnorganikI. Palu: FKIP Universitas Tadulako.

Walanda K, Daud.2007.Kimia Organik I. Palu :

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: